Kanker serviks di Indonesia menduduki peringkat pertama penyebab kematian wanita. Dan sebenarnya, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi.
Di dunia, kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak diderita wanita usia di atas 15 tahu. Sekitar 5000 wanita didiagnosis menderita kanker serviks, dan setiap 2 menit seorang wanita meninggal karena kanker ini. Di Indonesia, setiap satu jam seorang wanita meninggal karena kanker.
Menurut dr Bramundito, SpOG, kanker serviks merupakan beban kesehatan, psikologi, dan sosial bagi wanita penderita. Penyakit ini dapat menyerang semua wanita, khususnya yang aktif secara seksual, tanpa memandang usia atau gaya hidupnya. “Tetap ada faktor risiko yang potensial menyebabkan kanker serviks. Di antaranya, melakukan hubungan seks di usia muda, sering berganti-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom, sering menderita infeksi di daerah kelamin, melahirkan banyak anak, dan kebiasaan merokok. Juga defisiensi vitamin A, C, dan E.” ujarnya.
Deteksi Dini
Kanker serviks berbeda dengan kanker jenis lainnya. Pada kanker serviks, ada fase yang disebut prakanker yang dapat dideteksi sejak dini. Jika segera mendapat pengobatan, angka kesembuhannya hampir 100%. Kanker serviks stadium dini seringkali tidak menunjukkan gejala atau tanda yang khas, bahkan tidak ada gejala sama sekali. Sedangkan, jika terjadi gejala seperti perdarahan setelah berhubungan intim; keputihan atau cairan encer dari vagina; mengalami perdarahan setelah menopause; keluar cairan kekuningan yang berbau atau bercampur darah; nyeri panggul; atau tidak dapat buang air kecil, maka kemungkinan besar sudah terjadi kanker serviks stadium lanjut. “Maka, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan sedini mungkin baik dengan Pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat). Jangan menunggu sampai ada keluhan,” ujar dr. Bramdito.
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kanker serviks dan penyebabnya, rendahnya kesadaran dan keengganan untuk deteksi dini, menyebabkan sebagian besar (lebih dari 70%) pasien datang dalam kondisi yang sudah parah dan sulit disembuhkan.
Vaksin HPV
Tidak banyak kanker yang diketahui penyebabnya. Akan tetapi, penyebab kanker serviks sudah berhasil diketahui, yakni Human Papilloma Virus (HPV). Kurang lebih 99,7% kanker serviks disebabkan oleh HPV. Dengan diketahui penyebabnya, kanker serviks dapat dicegah atau diatasi.
Ada sekitar 100 jenis HPV yang telah diidentifikasi, sebagian besar tidak berbahaya. Sebanyak 40 jenis dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Dari 40 jenis ini digolongkan menjadi dua golongan, yaitu HPV berisiko tinggi (penyebab kanker) dan berisiko rendah. Ada 15 jenis yang menyebabkan kanker, di antaranya HPV 16 dan 18 yang merupakan penyebab dari 70% kanker serviks di Asia Pasifik dan dunia.
Cara pencegahan terbaru adalah dengan vaksinasi, terutama yang menargetkan pada HPV 16 dan 18. Vaksin akan meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan menghancurkan virus ketika masuk ke dalam tubuh, sebelum terjadi infeksi.
Vaksin sebaiknya dilakukan sejak masa remaja, yaitu sejak usia 10 tahun pada orang Indonesia dengan jadwal vaksinasi bulan ke-0, 1, dan 6. Pada usia ini anak sudah mulai memasuki masa reproduktif dan belum terkontaminasi oleh virus HPV. Sehingga dengan vaksinasi, respons titer antibodi yang terbentu jauh lebih tinggi dibandingkan usia dewasa, menurut Karel Staa, MD.
Vaksin ini dikalkulasi dapat memberi pertahanan selama 5-6 tahun. Seperti vaksin pada umumnya, vaksin ini tidak sepenuhnya memberi perlindungan 100% terhadap kanker serviks. Oleh karena itu, vaksinasi bersama skrining serta usaha mengurangi faktor risiko dapat mengurangi risiko terkena kanker serviks. Sekaligus dapat menurunkan jumlah penderita kanker serviks di Indonesia.
Sumber: Semijurnal Farmasi & Kedokteran, No. 52, Juni 2008.
Rabu, 15 Oktober 2008
Senin, 08 September 2008
Kurma Tidak Sekedar Pemulih Energi
Kurma, buah yang terkenal dengan rasanya yang manis, sangat populer di bulan Ramadhan. Dalam haditsnya, Rasullullah menganjurkan berbuka puasa dengan kurma dalam jumlah ganjil. Orang sekaliber Nabi Muhammad saw, pasti memiliki alasan yang kuat mengapa memberi anjuran seperti ini.
Kurma mengandung gula sederhana dalam bentuk glukosa dan fruktosa yang sangat mudah dicerna. Pengolahannya tidak membutuhkan waktu lama. Hasil olahan yang berupa energi sudah dapat langsung dipakai oleh tubuh.
Bila dibandingkan dengan nasi yang penyerapannya membutuhkan waktu berjam-jam, penyerapan gula dalam kurma hanya butuh waktu 45-60 menit. Oleh karenanya kurma sangat cocok untuk berbuka puasa menurut ahli gizi Luhir Ngudi Setyaningrum. Tidak hanya itu, kurma bahkan mampu mengubah tingkat keasaman lambung menjadi basa setelah 13-14 jam tidak memperoleh makanan dan minuman.
Saat berpuasa, tubuh kekurangan 20-30 persen energi dibandingkan pasokan biasanya. Untuk menambal kekurangan itu, tubuh mengambil cadangan energi dari glikogen dan lemak. Oleh karena itu, sebagai pembatal puasa, dianjurkan mengonsumsi makanan dengan kandung gula sederhana yang cepat mengembalikan energi. Selain kurma, gula sederhana juga didapat dari es sirup, es the, atau es buah.
Kehebatan kurma tidak hanya sebagai sumber energi instan, masih banyak kandungan gizi lain yang sangat dibutuhkan tubuh dan tentu saja menyehatkan.
- 100 gram kurma (setara dengan 6 suplai 8 butir kurma) mengandung 278,9 kalori, 3 g protein, dan 73,6 karbohidrat.
- Serat dalam bentuk selulosa dan hemiselulosa. Keduanya mengatur peristaltik usus sehingga memudahkan BAB.
- Asam salisilat yang umum dijadikan bahan dasar aspirin. Asam salisilat mencegah pembekuan darah, antiinflamasi (radang), dan menghilangkan rasa ngilu, menurut Romdoni spesialis penyakit dalam dan spesialis jantung-pembuluh darah.
- Fosfor dan kalium. Keduanya berfungsi mengatur denyut nadi jantung dan membantu mengatur tekanan darah. Karenanya, mengonsumsi kurma dapat menurunkan risiko stroke.
- Vitamin A dan E yang membantu sistem imun tubuh, memelihara sel-sel epitel, dan retina mata.
Dengan manfaat yang begitu banyak, tidak heran kurma dianjurkan untuk pembatal puasa. Tidak hanya rasanya yang manis, tetapi juga menyehatkan. Tetapi, untuk pengidap diabetes melitus perlu berhati-hati mengonsumsi kurma. Bila gula darah terkontrol masih diperbolehkan mengonsumsi kurma sekali sehari.
Kurma mengandung gula sederhana dalam bentuk glukosa dan fruktosa yang sangat mudah dicerna. Pengolahannya tidak membutuhkan waktu lama. Hasil olahan yang berupa energi sudah dapat langsung dipakai oleh tubuh.
Bila dibandingkan dengan nasi yang penyerapannya membutuhkan waktu berjam-jam, penyerapan gula dalam kurma hanya butuh waktu 45-60 menit. Oleh karenanya kurma sangat cocok untuk berbuka puasa menurut ahli gizi Luhir Ngudi Setyaningrum. Tidak hanya itu, kurma bahkan mampu mengubah tingkat keasaman lambung menjadi basa setelah 13-14 jam tidak memperoleh makanan dan minuman.
Saat berpuasa, tubuh kekurangan 20-30 persen energi dibandingkan pasokan biasanya. Untuk menambal kekurangan itu, tubuh mengambil cadangan energi dari glikogen dan lemak. Oleh karena itu, sebagai pembatal puasa, dianjurkan mengonsumsi makanan dengan kandung gula sederhana yang cepat mengembalikan energi. Selain kurma, gula sederhana juga didapat dari es sirup, es the, atau es buah.
Kehebatan kurma tidak hanya sebagai sumber energi instan, masih banyak kandungan gizi lain yang sangat dibutuhkan tubuh dan tentu saja menyehatkan.
- 100 gram kurma (setara dengan 6 suplai 8 butir kurma) mengandung 278,9 kalori, 3 g protein, dan 73,6 karbohidrat.
- Serat dalam bentuk selulosa dan hemiselulosa. Keduanya mengatur peristaltik usus sehingga memudahkan BAB.
- Asam salisilat yang umum dijadikan bahan dasar aspirin. Asam salisilat mencegah pembekuan darah, antiinflamasi (radang), dan menghilangkan rasa ngilu, menurut Romdoni spesialis penyakit dalam dan spesialis jantung-pembuluh darah.
- Fosfor dan kalium. Keduanya berfungsi mengatur denyut nadi jantung dan membantu mengatur tekanan darah. Karenanya, mengonsumsi kurma dapat menurunkan risiko stroke.
- Vitamin A dan E yang membantu sistem imun tubuh, memelihara sel-sel epitel, dan retina mata.
Dengan manfaat yang begitu banyak, tidak heran kurma dianjurkan untuk pembatal puasa. Tidak hanya rasanya yang manis, tetapi juga menyehatkan. Tetapi, untuk pengidap diabetes melitus perlu berhati-hati mengonsumsi kurma. Bila gula darah terkontrol masih diperbolehkan mengonsumsi kurma sekali sehari.
Jumat, 04 Juli 2008
Hati-hati Memakai Obat Tetes Mata
Penyakit atau gangguan di mata sama-sama menunjukkan gejala mata merah. Jadi, Anda perlu berhati-hati menggunakan obat tetes mata, karena belum tentu cocok dengan gangguan pada mata yang sedang dialami. Menggunakan obat tetes mata tanpa saran dari dokter bisa berbahaya. Ada jenis obat mata yang tidak boleh digunakan (kontraindikasi) untuk penyakit mata tertentu. Sama-sama menyebabkan mata merah, obatnya bisa berbeda.
Iritasi atau infeksi mata biasanya menyebabkan mata merah. Namun demikian, glaukomo juga menunjukkan mata merah. Dan tentu saja obatnya tidak sama dengan obat untuk iritasi atau infeksi mata.
Obat tetes mata ada beberapa jenis, yang indikasinya berbeda, dan tidak sama cara menggunakannya. Obat tetes mata sebaiknya jangan disimpan terlalu lama jika kemasannya sudah dibuka. Selain konsentrasi obat berubah, mungkin efektivitasnya juga sudah menurun, selain kemungkinan kandungan di dalamnya rusak.
Obat tetes mata untuk mata infeksi sebaiknya langsung dibuang setelah digunakan. Kemungkinan obat tercemar oleh bibit penyakit sewaktu dibuka, besar sekali. Apabila obat tetes mata yang sudah tercemar ini tetap digunakan, alih-alih menyembuhkan, justru memperparah penyakit mata yang sudah ada.
Iritasi atau infeksi mata biasanya menyebabkan mata merah. Namun demikian, glaukomo juga menunjukkan mata merah. Dan tentu saja obatnya tidak sama dengan obat untuk iritasi atau infeksi mata.
Obat tetes mata ada beberapa jenis, yang indikasinya berbeda, dan tidak sama cara menggunakannya. Obat tetes mata sebaiknya jangan disimpan terlalu lama jika kemasannya sudah dibuka. Selain konsentrasi obat berubah, mungkin efektivitasnya juga sudah menurun, selain kemungkinan kandungan di dalamnya rusak.
Obat tetes mata untuk mata infeksi sebaiknya langsung dibuang setelah digunakan. Kemungkinan obat tercemar oleh bibit penyakit sewaktu dibuka, besar sekali. Apabila obat tetes mata yang sudah tercemar ini tetap digunakan, alih-alih menyembuhkan, justru memperparah penyakit mata yang sudah ada.
Senin, 30 Juni 2008
Prebiotik dan Probiotik
Pencernaan kita perlu diisi dengan bakteri baik. Sejak bayi lahir, ususnya sudah dihuni bakteri yang masuk ke mulut bayi saat melewati jalan lahir ibu. Bakteri baik tumbuh hingga triliunan di dalam usus, dari seribu spesies, dan sebagian besar spesies berasal dari rongga mulut.
Peternakan bakteri di dalam usus di sebut “Flora Usus”. Flora usus membantu proses pencernaan, menyintesis vitamin K, membantu pembentukan sistem kekebalan usus, membasmi kuman patogen yang memasuki usus, menetralisir efek samping obat, selain itu juga membantu terapi diare.
Bila pencernaan kekurangan bakteri (sering menggunakan pencahar, sering diare), akan menyebabkan metabolisme menjadi tidak lancar, cenderung mengalami radang usus besar, dan pembentukan feses yang tidak normal.
Oleh karena itu, setiap hari pencernaan membutuhkan makanan untuk ternak bakteri usus atau prebiotik, seperti yang dapat diperoleh dari bawang, pisang, asparagus, tomat, sereal, susu yoghurt, madu, dan buah-buahan, agar koloni flora normal(probiotik) tumbuh dengan subur.
(Sumber: Dr. Hendrawan N. 2007. Sehat itu murah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Peternakan bakteri di dalam usus di sebut “Flora Usus”. Flora usus membantu proses pencernaan, menyintesis vitamin K, membantu pembentukan sistem kekebalan usus, membasmi kuman patogen yang memasuki usus, menetralisir efek samping obat, selain itu juga membantu terapi diare.
Bila pencernaan kekurangan bakteri (sering menggunakan pencahar, sering diare), akan menyebabkan metabolisme menjadi tidak lancar, cenderung mengalami radang usus besar, dan pembentukan feses yang tidak normal.
Oleh karena itu, setiap hari pencernaan membutuhkan makanan untuk ternak bakteri usus atau prebiotik, seperti yang dapat diperoleh dari bawang, pisang, asparagus, tomat, sereal, susu yoghurt, madu, dan buah-buahan, agar koloni flora normal(probiotik) tumbuh dengan subur.
(Sumber: Dr. Hendrawan N. 2007. Sehat itu murah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Selasa, 27 Mei 2008
Hati-hati Memilih Obat Flu Anak
FDA (Food and Drug Administration) atau badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat, pada tahun 2007 mengeluarkan himbauan agar produk obat batuk dan pilek untuk anak-anak usia di bawah 6 tahun, ditarik dari peredaran. Kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi risiko overdosis dari penggunaan obat-obatan tersebut. Keputusan tersebut diambil berdasarkan data kematian 54 anak antara tahun 1969-2006. Mereka meninggal karena menggunakan obat batuk yang mengandung dekongestan.
Produk obat batuk dan pilek yang sebagian besar menggunakan pseudoefredin (psedoephredine) ditarik dari peredaran karena dosis yang digunakan tidak sesuai dengan anjuran. Penarikan tersebut merupakan langkah pencegahan untuk menghindari penggunaan obat yang tidak sesuai, termasuk penggunaan yang berlebihan pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun. Meskipun demikian, BPOM merasa belum perlu menarik produk obat batuk dari pasaran, tetapi menganjurkan agar anak-anak balita tidak minum obat batuk-pilek yang dijual bebas.
Pseudoefredin
Pseudoefredin merupakan dekongestan nasal, yaitu zat dalam obat yang dapat meredakan hidung tersumbat, biasanya akibat reaksi peradangan dan produksi cairan atau sekret yang banyak pada penderita flu.
Di Amerika Serikat, CDC (Center for Disease Control) melakukan penelitian kematian bayi usia kurang dari 12 bulan yang disebabkan obat batuk-pilek. Ada 3 kematian bayi yang berusia kurang dari 6 bulan, yang memiliki kadar pseudoefredin tinggi dalam darahnya.
Pseudoefredin memiliki efek samping yang harus diwaspadai bahkan oleh tenaga medis sekalipun, sehingga tidak disarankan penggunaannya tanpa disertai resep dokter. Obat ini, jika masuk ke dalam sistem saraf pusat, dapat menyebabkan kecemasan, peka ransangan, dan gelisah. Efek samping lainnya berupa denyut jantung lebih cepat, insomnia, efek alergi pada kulit, kulit kering, retensi urin (urin tertahan di dalam kandung kemih), anoreksia, halusinasi, sakit kepala, mual, dan sakit perut. Pseudoefredin juga dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke.
Phenylephrine sebagai alternatif
Phenylephrine, tidak seperti pseudoefredin, relatif lebih aman. Mekipun berpotensi menyebabkan hipertensi, laporan kasus-kasus tersebut masih tergolong jarang. Menurut Clinical Pharmacology Review, dosis yang diperlukan untuk meningkatkan tekanan darah adalah 50 mg, 5x dosis terapeutik. Phenylephrine oral 10 mg dianggap tidak memengaruhi tekanan darah atau detak jantung. Dan berdasarkan penelitian, dosis oral sebanyak 10 mg menjadikan phenylephrine dekongestan yang efektif untuk penderita pilek.
Phenylephrine bisa jadi merupakan obat pilihan karena efek sampingnya yang minimal terutama pada sistem saraf pusat. Dalam dosis yang direkomendasikan, efeknya terhadap kerja jantung sangat kecil. Akan tetapi, tetap tidak dianjurkan menggunakan obat ini tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Bila anak Anda, dan terutama jika masih bayi menderita batuk dan pilek, Anda harus menjadi orang tua yang hati-hati dan jeli. Meskipun Anda memeriksakan anak ke dokter anak sekalipun, ada baiknya menjadi lebih kritis untuk menanyakan kandungan obat yang diresepkan. Saat ini, obat batuk dan pilek yang mengandung pseudoefredin masih beredar luas di pasaran.
Produk obat batuk dan pilek yang sebagian besar menggunakan pseudoefredin (psedoephredine) ditarik dari peredaran karena dosis yang digunakan tidak sesuai dengan anjuran. Penarikan tersebut merupakan langkah pencegahan untuk menghindari penggunaan obat yang tidak sesuai, termasuk penggunaan yang berlebihan pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun. Meskipun demikian, BPOM merasa belum perlu menarik produk obat batuk dari pasaran, tetapi menganjurkan agar anak-anak balita tidak minum obat batuk-pilek yang dijual bebas.
Pseudoefredin
Pseudoefredin merupakan dekongestan nasal, yaitu zat dalam obat yang dapat meredakan hidung tersumbat, biasanya akibat reaksi peradangan dan produksi cairan atau sekret yang banyak pada penderita flu.
Di Amerika Serikat, CDC (Center for Disease Control) melakukan penelitian kematian bayi usia kurang dari 12 bulan yang disebabkan obat batuk-pilek. Ada 3 kematian bayi yang berusia kurang dari 6 bulan, yang memiliki kadar pseudoefredin tinggi dalam darahnya.
Pseudoefredin memiliki efek samping yang harus diwaspadai bahkan oleh tenaga medis sekalipun, sehingga tidak disarankan penggunaannya tanpa disertai resep dokter. Obat ini, jika masuk ke dalam sistem saraf pusat, dapat menyebabkan kecemasan, peka ransangan, dan gelisah. Efek samping lainnya berupa denyut jantung lebih cepat, insomnia, efek alergi pada kulit, kulit kering, retensi urin (urin tertahan di dalam kandung kemih), anoreksia, halusinasi, sakit kepala, mual, dan sakit perut. Pseudoefredin juga dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke.
Phenylephrine sebagai alternatif
Phenylephrine, tidak seperti pseudoefredin, relatif lebih aman. Mekipun berpotensi menyebabkan hipertensi, laporan kasus-kasus tersebut masih tergolong jarang. Menurut Clinical Pharmacology Review, dosis yang diperlukan untuk meningkatkan tekanan darah adalah 50 mg, 5x dosis terapeutik. Phenylephrine oral 10 mg dianggap tidak memengaruhi tekanan darah atau detak jantung. Dan berdasarkan penelitian, dosis oral sebanyak 10 mg menjadikan phenylephrine dekongestan yang efektif untuk penderita pilek.
Phenylephrine bisa jadi merupakan obat pilihan karena efek sampingnya yang minimal terutama pada sistem saraf pusat. Dalam dosis yang direkomendasikan, efeknya terhadap kerja jantung sangat kecil. Akan tetapi, tetap tidak dianjurkan menggunakan obat ini tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Bila anak Anda, dan terutama jika masih bayi menderita batuk dan pilek, Anda harus menjadi orang tua yang hati-hati dan jeli. Meskipun Anda memeriksakan anak ke dokter anak sekalipun, ada baiknya menjadi lebih kritis untuk menanyakan kandungan obat yang diresepkan. Saat ini, obat batuk dan pilek yang mengandung pseudoefredin masih beredar luas di pasaran.
Kamis, 22 Mei 2008
Sifat Zat Yang Membahayakan Janin dalam Kandungan
Sifat suatu zat/obat yang memengaruhi perkembangan janin di dalam rahim digolongkan ke dalam:
Teratogenik: agens/zat yang merusak kondisi di dalam rahim,tanpa memandang usia kehamilan. Agens teratogenik merupakan salah satu penyebab perubahan struktural dan perilaku pada janin jika diberikan selama trimester pertama.
Fetotoksik: zat yang menyebabkan perubahan janin pada trimester 2 dan 3.
Trafogen: zat yang dapat mengganggu pertumbuhan janin.
Litogen: zat yang berisiko menyebabkan masalah hukum; berdasarkan hukum tidak berisiko tetapi ditemukan kasus yang dicurigai berkaitan dengan obat tersebut. Sebagai contoh, Bendectin (obat nausea gastrointestine) kombinasi dengan doksilamin suksinat & vit B6.
Teratogenik: agens/zat yang merusak kondisi di dalam rahim,tanpa memandang usia kehamilan. Agens teratogenik merupakan salah satu penyebab perubahan struktural dan perilaku pada janin jika diberikan selama trimester pertama.
Fetotoksik: zat yang menyebabkan perubahan janin pada trimester 2 dan 3.
Trafogen: zat yang dapat mengganggu pertumbuhan janin.
Litogen: zat yang berisiko menyebabkan masalah hukum; berdasarkan hukum tidak berisiko tetapi ditemukan kasus yang dicurigai berkaitan dengan obat tersebut. Sebagai contoh, Bendectin (obat nausea gastrointestine) kombinasi dengan doksilamin suksinat & vit B6.
Benarkah Pil KB Bikin Gemuk?
Banyak wanita beranggapan bahwa konsumsi pil menyebabkan penambahan berat badannya beberapa kilogram. Akan tetapi, penelitian terbaru tidak menemukan bukti klinis bahwa pil kontrasepsi menyebabkan penambahan berat badan. Jadi, sebenarnya kurang bijaksana jika wanita mengaitkan penambahan berat badan akibat mengonsumsi pil KB.
Para peneliti di Family Health International-sebuah organisasi nonprofit di Amerika yang aktif dalam kegiatan kesehatan masyarakat internasional—menguji coba 44 jenis kontrasepsi hormonal. Tiga dari penelitian tersebut membandingkan perubahan berat badan pada wanita yang mengonsumsi pil kontrasepsi dengan wanita yang meminum pil plasebo (sediaan yang tidak mengandung obat). Ketiganya tidak memperlihatkan adanya hubungan antara konsumsi pil kb dan penambahan berat badan. Percobaan sisanya, membandingkan antara perubahan berat badan di antara wanita yang minum pil KB yang berbeda. Beberapa wanita mengalami penurunan dan juga kenaikan berat badan, tetapi secara keseluruhan perbedaan kedua kelompok tersebut minimal.
Ketua penelitian, Profesor Lopez mengatakan, “Terdapat bukti bahwa wanita mungkin mengganti metode kontrasepsi atau menghentikan penggunaan pil KB karena mereka anggap menyebabkan kenaikan berat badan. Kabar baik menunjukkan bahwa tidak ditemukan bukti yang mendukung hubungan sebab akibat antara kontrasepsi dan kenaikan berat badan.
Penelitian ini mengonfirmasi apa yang telah dikatakan para profesional kesehatan selama bertahun-tahun—bahwa pil itu sendiri tidak secara langsung menyebabkan kenaikan berat badan. Kemungkinan yang sering terjadi, saat memulai penggunaan pil kontrasepsi, biasanya disertai dengan perubahan gaya hidup, yang memengaruhi perubahan pola makan dan minum sehingga berat badan mengalami kenaikan.
Sebagai contoh, seorang wanita mulai minum pil KB di awal pernikahan atau memiliki hubungan yang serius dengan pria, mungkin akan mengalami perasaan nyaman dan bahagia dengan hubungan tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan pola makan dan bahkan porsi makan. Selain itu, frekuensi makan bersama di restoran atau tempat makan favorit juga menjadi lebih sering. Frekuensi makan yang lebih sering dan pilihan menu makanan yang tinggi kalori atau minim serat masih diperparah dengan berkurangnya aktivitas olahraga.
Wanita yang mengalami kenaikan berat badan setelah menggunakan pil kontrasepsi, sebaiknya meninjau kembali perubahan gaya hidup yang terjadi sejak menggunakan pil tersebut. Mungkin setelah mengkaji kembali pola hidup yang berubah, wanita akan menemukan bahwa tidak ada dampak langsung dari penggunaan pil kontrasepsi terhadap kenaikan berat badan yang dialami. Penggunaan pil kontrasepsi disertai pola hidup yang positif akan membantu mengurangi kelebihan lemak di tubuh, dan wanita pun merasa aman dari kehamilan yang tidak direncanakan.
Sumber: Weight Loss Resource Ltd. Copyright 2000-2008
Para peneliti di Family Health International-sebuah organisasi nonprofit di Amerika yang aktif dalam kegiatan kesehatan masyarakat internasional—menguji coba 44 jenis kontrasepsi hormonal. Tiga dari penelitian tersebut membandingkan perubahan berat badan pada wanita yang mengonsumsi pil kontrasepsi dengan wanita yang meminum pil plasebo (sediaan yang tidak mengandung obat). Ketiganya tidak memperlihatkan adanya hubungan antara konsumsi pil kb dan penambahan berat badan. Percobaan sisanya, membandingkan antara perubahan berat badan di antara wanita yang minum pil KB yang berbeda. Beberapa wanita mengalami penurunan dan juga kenaikan berat badan, tetapi secara keseluruhan perbedaan kedua kelompok tersebut minimal.
Ketua penelitian, Profesor Lopez mengatakan, “Terdapat bukti bahwa wanita mungkin mengganti metode kontrasepsi atau menghentikan penggunaan pil KB karena mereka anggap menyebabkan kenaikan berat badan. Kabar baik menunjukkan bahwa tidak ditemukan bukti yang mendukung hubungan sebab akibat antara kontrasepsi dan kenaikan berat badan.
Penelitian ini mengonfirmasi apa yang telah dikatakan para profesional kesehatan selama bertahun-tahun—bahwa pil itu sendiri tidak secara langsung menyebabkan kenaikan berat badan. Kemungkinan yang sering terjadi, saat memulai penggunaan pil kontrasepsi, biasanya disertai dengan perubahan gaya hidup, yang memengaruhi perubahan pola makan dan minum sehingga berat badan mengalami kenaikan.
Sebagai contoh, seorang wanita mulai minum pil KB di awal pernikahan atau memiliki hubungan yang serius dengan pria, mungkin akan mengalami perasaan nyaman dan bahagia dengan hubungan tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan pola makan dan bahkan porsi makan. Selain itu, frekuensi makan bersama di restoran atau tempat makan favorit juga menjadi lebih sering. Frekuensi makan yang lebih sering dan pilihan menu makanan yang tinggi kalori atau minim serat masih diperparah dengan berkurangnya aktivitas olahraga.
Wanita yang mengalami kenaikan berat badan setelah menggunakan pil kontrasepsi, sebaiknya meninjau kembali perubahan gaya hidup yang terjadi sejak menggunakan pil tersebut. Mungkin setelah mengkaji kembali pola hidup yang berubah, wanita akan menemukan bahwa tidak ada dampak langsung dari penggunaan pil kontrasepsi terhadap kenaikan berat badan yang dialami. Penggunaan pil kontrasepsi disertai pola hidup yang positif akan membantu mengurangi kelebihan lemak di tubuh, dan wanita pun merasa aman dari kehamilan yang tidak direncanakan.
Sumber: Weight Loss Resource Ltd. Copyright 2000-2008
Langganan:
Postingan (Atom)
